Mungkin kita tidak pernah menyadari kalau memberi adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini. Terlebih jika yang kita berikan itu sangat dihargai oleh penerimanya dan memberi manfaat yang sangat besar baginya maupun orang-orang di sekitarnya.

Cerita ini mungkin bisa menjadi contoh sederhana:

Disaat sedang membeli bakso dari penjual gerobak keliling tiba-tiba si penjualnya kesulitan karena ban roda gerobaknya rusak dan harus diganti secepatnya. Kebetulan kita memperhatikan kondisi itu sedangkan si penjual bakso itu tidak mengeluh barang sedikitpun tentang kesulitannya tersebut.

Spontan kita bertanya pada si penjual bakso, ” Kenapa roda gerobaknya Pak?”

“Nggak apa-apa, hanya rusak dan harus cepat diganti,” jawab si penjual bakso dengan tetap tersenyum ringan.

“Sudah berapa lama rusaknya?” tanya kita lagi.

“Ya lumayan lamalah, masih nunggu ada rizki lebih benerinnya. Harganya lumayan mahal,” cetus si penjual bakso dengan masih tersenyum riang.

Tiba-tiba saja entah darimana datangnya dalam hati kita terbersit pikiran mungkin si penjual bakso itu sedang kebingungan untuk memperbaiki roda gerobak jualannya. Gerobak yang menjadi tumpuan hidup bagi diri sendiri dan keluarganya.

“Wah, saya belum ada kembaliannya. Kalau uang kecil ada?” kata si penjual bakso saat menerima uang pecahan lima puluh ribu rupiah yang diterima dari kita untuk membayar semangkuk bakso.

“Tolong simpan saja pak.. Lebihnya untuk nambah uang sekolah anak-anak saja,” elak kita untuk memperhalus pemberian pada si penjual bakso itu.

Saya yakin pada saat kita melihat wajah bahagia campur haru dari penjual bakso itu pasti akan mendatangkan kebahagiaan yang nikmatnya luar biasa di hati kita. Perasaan bahwa kita bisa berbagi dengan ikhlas terhadap sesama kita.

Memang di jaman sekarang ini keinginan untuk lebih memikirkan orang lain yang lebih membutuhkan dibandingkan dengan diri kita sendiri telah menjadi hal yang langka. Bahkan di beberapa kasus menjadi hal yang mengundang cemoohan dari lingkungan sekitar kita.

Dari mulai dianggap sok alim, dibilang ingin masuk surga, dsb. Namun mungkin disanalah tantangannya. Tantangan untuk membuktikan bahwa kebahagian bukanlah ditentukan oleh banyaknya materi yang bisa kita kumpulkan tapi lebih kepada menjadikan diri kita bermanfaat sebesar-besarnya bagi orang banyak secara positif.

Mungkin sebuah petuah dari guru spiritual saya bisa menjadi pencerahan bagi kita:

“Tidak pernah ada dalam sejarah kehidupan kalau orang jadi miskin dan sengsara karena banyak memberi pada orang. Orang jadi sengsara, bangkrut dan terhina karena hartanya habis untuk maksiat.”